Rabu, 23 November 2011

Studi Hukum Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Umat Islam di Indonesia adalah unsur paling mayoritas. Dalam tataran dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan dapat disebut sebagai komunitas muslim paling besar yang berkumpul dalam satu batas teritorial kenegaraan. Karena itu, menjadi sangat menarik untuk memahami alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-tengah komunitas Islam terbesar di dunia itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti: seberapa jauh pengaruh kemayoritasan kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air misalnya, dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak komunitas muslim hadir di Indonesia.
Di samping itu, kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga dapat dijadikan sebagai salah satu pijakan bagi umat Islam secara khusus untuk menentukan strategi yang tepat di masa depan dalam mendekatkan dan “mengakrabkan” bangsa ini dengan hukum Islam. Proses sejarah hukum Islam yang diwarnai “benturan” dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga dengan kebijakan-kebijakan politik-kenegaraan, serta tindakan-tindakan yang diambil oleh para tokoh Islam Indonesia terdahulu setidaknya dapat menjadi bahan telah penting di masa datang.
Era tahun 1930-an sampai sekarang ini merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia Islam. Kemerdekaan negara-negara muslim dari kolonialisme Barat turut mendorong semangat para sarjana muslim dalam mengembangkan pemikirannya tentang perkembangan hukum islam masa kini atau kotemporer.
Dengan demikian, di era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Supaya hukum islam berkembang menjadi lebih baik.

B.       Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana Perkembangan Hukum Ialam pada masa kini(Kotemporer)?
2.      Bagaimana Hukum Islam di Indonesia?
C.      Tujuan Penulisan
Adapun Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui Perkembangan Hukum Ialam pada masa kini(Kotemporer).
  2. Mengetahui Hukum Islam di Indonesia.






















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Hukum Islam dalam sebuah negara bangsa
Setiap sistem hukum menyatakan bahwa orang-orang yang terikat dengan hukum tersebut harus bersedia mengakui otoritasnya. Selain itu mereka juga mengakui bahwa hukum tersebut mengikat mereka, begitu juga dengan hukum islam juga dengan hukum dalam suatu negara bangsa. Secara umum ada dua pandangan dalam penerapan hukum islam dibawah ketentuan negara-bangsa (nation-state). Pandangan pertama ialah mengedepankan cara akomodatif, yaitu bangunan hukum islam dirubah seseuai dengan paradigma modern. Artinya hukum islam yang semula lahir dan berkembang dalam masyarakat tradisional yang bersifat kelompok, sehingga anggota komunitasnya diikat berdasarkan identitas, etnis, agama, keluarga atau yang lain sebagainya. Keseluruhan paradigma hukum islam tradisonal tersebut dirubah dengan sisitem keseluruhan yaitu system yang mana masyarakat berada dalam sebuah sistem yang konstitusional negara-bangsa bahkan tatanan hukum internasional.[1] Oleh karena itu, keputusan dan praktek hukum islam harus didasarkan pada alasan-alasan rasional. Jadi, seluruh warisan hukum islam adalah baku, begitu juga dengan hukum-hukum pada awalnya seperti hukum adat dan lain sebagainya dalam hukum nasional.
Lalu paradigma kedua adalah dengan mempetahankan paradigma hukum islam semula mendesaknya masuk dalam sistem hukum modern, baik secara ideologis maupun  praktis. Idelogis dalam arti menggantikan sistem negara bangsa. Kwarganegaraannya berdasarkan keseragaman agama, yaitu islam sebagai sistem yang formal. Jadi hukum modern hanya bertugas menerapkan hukum yang sudah jadi tersebut.


B.       Hukum Islam, hukum barat, dan hukum adat
Agama islam pada awal mulanya dipeluk oleh kaum masyarakat yang memiliki tradisi social dan hukum sendiri-sendiri. Dan masing-masing mempunyai tradisi sendiri-sendiri yang diwariskan dari para pendahulunya dalam rentang jangka waktu yang lama.  Karena menerima islam sebagai agama mereka maka secara otomatis secara prinsip juga mengakui otoritas hukum islam.[2]
Walaupun secara teoritik, hukum mencakup setiap cabang dan hubungan social, namun dalam prakteknya banyak sekali aspek kehidupan yang kehidupan yang masih terabaikan. Hukum islam pada masa modern kurang berpengaruh dibandingkan hukum eropa/barat. Kelompok-kelompok modernis seringkali mengambil sikap barat dalam menghadapi permasalahan-permasalahan hukum islam. Namun hingga saat ini mungkin hanya Arab Saudi dan sampai batas tertentu Afghanistan yang tetap melestarikan hukum islam yang lama.
Namun, terdapat satu bidang yang tetap mempertahankan tatanan hukum islam, yaitu bidang yang berhubungan dengan hubungan perorangan (ahwal al-syakhsyiyyah) seperti perakwinan, waris, perceraian dan lain sebagainya.
Permasalahan muncul di negara-negara lain ketika timbul adanya dua macam hukum yang sama-sama berlaku dan  berinteraksi, yaitu hukum barat dan hukum islam. Hukum barat telah berhasil dicernakan di berbagai daerah islam. Jika pada mulanya mereka tidak terusik dan terganggu namun lama-kelamaan pada masa berikutnya terjadi kesesuaian dengan temperamen penduduk muslim. Penentangan terhadap barat disuarakan oleh ahli hukum islam.[3]
C.      Ijtihad kolektif trend dalam hukum islam modern
Modernisasi atau juga bisa disebut zaman sekarang yang dimulai dari proyek industrialisasi telah membawa dampak yang luar biasa pada peradaban manusia. Komplektisitas masalah modern sulit dijawab oleh seorang pakar hukum islam tetapi perlu bantuan pakar yang lain. Dengan kolektifitas ulama kultus individu tidak dapat dihindari karena masing-masing ulama' mempunyai kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi. Kesepakatan bersama inilah yang kemudian hari disebut sebagai ijtihad kolektif (ijtihad jama'i) yang mana ijtihad ini dalam lembaga ulama bisa mempersempit dan memperkecil perbedaan pendapat.
Untuk menjadi peserta ijtihad jam'i, seseorang memiliki kemampuan tentang studi hukum islam. Orang dapat dianggap sebagai pakar hukum islam bila menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, Al-Ghazali dalam kutipan al-Suyuti berikata, "jika seorang pakar fiqh tidak berkomentar atas masalah yang belum pernah didengarnya seperti komentarnya atas masalah yang didengarnya, maka ia bukan pakar fiqh".[4] Karena tidak semua umat islam yang memiliki kompetensi tersebut serta tuntutan zaman memerlukan kehadiran mujtahid, maka hukum ijtihad adlah Fardlu Kifayah,[5] yakni umat terbebas dari tanggungan dosa bila telah orang yang melakukan ijtihad.
Masyarakat modern yang menjunjung tinggi demokratisasi lebih percaya pada keputusan kolektif. Fatwa hukum islam dari lembaga keagamaan juga lebih dipercaya dibanding fatwa individu. Tidak hanya itu, keputusan hukum yang melibatkan dan mendengarkan pendapat banyak masyarakat dinilai lebih obyektif. Dengan demikian, pengambilan keputusan hukum islam secara kolektif dengan mempertimbangkan keadaan masyarakat relevan dengan pemikiaran masyarakat modern. [6]
D.      Hukum Islam di Indonesia saat ini
Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling mayoritas. Dalam tataran dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan dapat disebut sebagai komunitas muslim paling besar yang berkumpul dalam satu batas teritorial kenegaraan. Karena itu, menjadi sangat menarik untuk memahami alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-tengah komunitas Islam terbesar di dunia itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti: seberapa jauh pengaruh kemayoritasan kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air misalnya, dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak komunitas muslim hadir di Indonesia.
Di samping itu, kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga dapat dijadikan sebagai salah satu pijakan bagi umat Islam secara khusus untuk menentukan strategi yang tepat di masa depan dalam mendekatkan dan “mengakrabkan” bangsa ini dengan hukum Islam. Proses sejarah hukum Islam yang diwarnai “benturan” dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga dengan kebijakan-kebijakan politik-kenegaraan, serta tindakan-tindakan yang diambil oleh para tokoh Islam Indonesia terdahulu setidaknya dapat menjadi bahan telah penting di masa datang. Setidaknya, sejarah itu menunjukkan bahwa proses Islamisasi sebuah masyarakat bukanlah proses yang dapat selesai sekaligus ataupun seketika akan tetapi melalui perjalanan yang panjang.
Proses tersebut dilalui sejak ketika jaman kerajaan hingga pada masa sekarang yakni masa eranya demokrasi yang dari barat mulai memasuki negara indonesia. Ketika jatuhnya Soeharto maka gendering kebebasan dan berdemokrasi kembali ditabuhkan . Setelah melalui perjalanan yang panjang, di era ini setidaknya hukum Islam mulai menempati posisinya secara perlahan tapi pasti. Lahirnya Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya aturan undang-undang yang berlandaskan hukum Islam. Terutama pada Pasal 2 ayat 7 yang menegaskan ditampungnya peraturan daerah yang didasarkan pada kondisi khusus dari suatu daerah di Indonesia, dan bahwa peraturan itu dapat mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat umum.
Dengan demikian, di era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat melakukan langkah-langkah pembaruan, dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam, untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita.[7]
Langkah-langkah pembaharuan itu seperti pada kodifikasi hukum fiqh. Kodifikasi (taqnin) adalah upaya mengumpulkan beberapa masalah fiqh dalam satu bab dalam bentuk butiran bernomor.
Tujuan dari kodifikasi adalah untuk merealisasikan dua tujuan sebagai berikut: Pertama, menyatukan semua hukum dalam setiap masalah yang memiliki kemiripan sehingga tidak terjadi tumpang tindih, masing-masing memberikan keputusan sendiri, tetapi mereka seharusnya sepakat dengan materi undang-undang tertentu, dan tidak boleh dilanggar untuk menghindari keputusan yang kontradiktif. Kedua, memudahkan para hakim untuk merujuk semua hukum fiqh dengan susunan yang sistematik, ada bab-bab yang teratur sehingga mudah untuk dibaca.[8]












BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Penerapan hukujm islam yang terjadi pada masa sahabat lain ddengan sekarang, baik dilihat dari kondisi maupun dalam penerapannya. Semakin luasnya negara kekuasaan islam menjadi slah satu alasan dalam berkembangnya kedinamisan hukum islam itu sendiri menyesuaikan dengan kondisi social yang ada pada bangsa negara tersebut hal  ini menunjukan bahwa hukum islam itui sendiri tidak bersifat baku akan tetapi selalu dinamis.





















DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Benendict, komunitas-komunitas imajiner: renungan tentang asal usul dan penyebaran Nasionalisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Gibb, H.A.R., Aliran-aliran Moderndalam islam, Jakarta: Rajawali Pers, 1995.
J. Coulson, Noel, Hukum islam dalam perspektif sejarah, Jakarta: P3M, 1987.
Jalal al-Din al-Suyuti, Tafsir al ijtihad, Mekkah: al Maktabah al- Tijariyyah, 1982.
Tim penyusun MKD IAIN sunan ampel, Studi Hukum Islam, Surabaya: IAIN SA Pers, 2011.
Ashshiddiqie, Jimly, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, makalah Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam dalam Reformasi Sistem Nasional, Jakarta, 27 September 2000.
Hasan Kholil, Rasyad, Dr., Tarikh Tasyri: sejarah legislasi Hukum islam, Jakarta: Amzah, 2009.



[1] Benendict Anderson, komunitas-komunitas imajiner: renungan tentang asal usul dan penyebaran Nasionalisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal, 13-40
[2] H.A.R. Gibb, Aliran-aliran Moderndalam islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hal. 146
[3] Noel, J. Coulson, Hukum islam dalam perspektif sejarah, (Jakarta: P3M, 1987), hal. 188-189
[4]  Jalal al-Din al-Suyuti, Tafsir al ijtihad (Mekkah: al Maktabah al- Tijariyyah, 1982), hal 38
[5] Ibid. Jalal al-Din al-Suyuti, hal 21-25
[6]  Tim penyusun MKD IAIN sunan ampel, Studi Hukum Islam, (Surabaya: IAIN SA Pers, 2011), hal. 153-164
[7] Jimly Ashshiddiqie, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, makalah Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam dalam Reformasi Sistem Nasional, (Jakarta, 27 September 2000).
[8]  Dr. Rasyad Hasan Kholil, Tarikh Tasyri: sejarah legislasi Hukum islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 134-135

Korelasi Rank Order n Phi

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang masalah
       Kata korelasi berasal dari bahasa Inggris correlation yang artinya hubungan, saling hubungan, hubungan timbal balik. Dalam ilmu statistic korelasi adalah hubungan antara dua variabel atau lebih, hubungan antara dua variabel dikenal dengan istilah Bivariate correlation sedangkan hubungan antar lebih dari dua variable disebut Multivariate correlation.
       Hubungan antara dua variable misalnya hubungan atau korelasi antara prestasi studi (variable X) dan kerajinan kuliah (variable Y) maksudnnya: prestasi studi ada hubungannya dengan kerajinan kuliah. Sedangkan hubungan antar lebih dari dua variable, misalnya hubungan antara prestasi studi (variable ) dedang kerajinan kuliah (variable ), keaktifan mengunjungi perpustakaan (variabel  dan keaktifan berdiskusi (variabel ).
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Borg dan Gall bukunya Educational Research, terdapat 10 macam teknik perhitungan korelasi, diantaranya teknik korelasi tata jenjang (teknik korelasi rank order) dan teknik korelasi Phi (Phi Coefecient cerrelation) dalam pembahasan makalah ini.

B.  Rumusan masalah
Adapun Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana Teknik korelasi tata jenjang (teknik korelasi rank order)?
  2. Bagaimana Teknik korelasi Phi (Phi Coefecient cerrelation)?

C.  Tujuan penulisan
Adapun Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui Teknik korelasi tata jenjang (teknik korelasi rank order).
  2. Mengetahui Teknik korelasi Phi (Phi Coefecient cerrelation).

BAB II
TEKNIK KORELASI TATA JENJANG(TEKNIK KORELASI RANK ORDER = RANK ORDER CORRELATION = RANK DIFFERENCE CORRELATION)
A.  Pengertian
Pada teknik korelasi tata jenjang ini, besar kecil atau kuat lemahnya suatu variabel yang sedang kita selidiki korelasinya, kita ukur berdasarkanper bedaan urutan kedudukan skornya;  jadi bukan diddasarkan pada skor hasil pengukuran yang sebenarnya. Dengan kata lain datanya adalah data ordinal atau data berjenjang atau data urutan, nisalnya siswa yang IQ nya memiliki jenjang yang paling tinggi dalam hal prestasi belajaar matematika; siswa yang IQ nya paling rendah , prestasi belajar matematika nya juga menempati jenjang yang paling rendah. 
B.  Penggunaan
Teknik analisis korelasi tata jenjang ini dapat evektif digunakan apabila subyek yang dijadikan sampel dalam penelitian lebih dari sembilan tetraapi kurang dari sembilan puluh; dengan kata lain N antara 10 – 29, karena itu apabila N sama dengan atau lebih dari 30, sebaiknya jangan digunakan teknik korelasi ini.
C.  Lambang
Teknik korelasi tata jenjang ini angka indek korelasinya dilangbangkan dengan huruf  ρ (baca:Rho). Seperti halnya rxy maka angka indek korelasinya berkisar antara 0,00 sampai dengan ±1,00.
D.  Rumus
Untuk mencari ρ digunakan rumus sebagai berikut:
ρ = 1 -
ρ = 1 -
ρ                 = angka indek korelasi tata jenjang
6 & 1          = bilangan konstan tidak boleh diubah-ubah
D                            = perbedaan fariabel urutan skor pada variabel pertama (R1) dan uraian skor pada variabel yang kedua (R2); jadi D = R1-R2
N                            = number of cases, adala banyaknya pasangan yang sedang dicari korelasinya.
E.  Cara memberikan interperetasi terhadap angka indek korelasi terhadap angka jenjang
     Untuk mmberikan korelasi terhadap angka indek korelasi tata jenjang , terlebih dahulu kita rumuskan hipotesis alternatif dan hipotesis nol nya:
: ada korelasi yang sangat positif antara fariabel I dengan variable II
 : tidak ada korelasi yang sangat positif antara fariabel I dengan variable II
     Setelah diperoleh angka indek korelasi tentang tata jenjangnya yaitu Rho, lalu kita berikan interpretasi dengan menggunakan tabel nilai ρ dengan df = N, baik pada taraf signifikasi 5% maupun pada taraf signifikasi 1%, jika ρ yang kita peroleh dalam perhitungan (yaitu : ) sama besar dengan harga ρ yang tercantum dalam tabel yaitu (yaitu : ), maka hipotesis nol ditolak; sebaliknya hipotesis alternative disetujui apabila  lebih kecil dari pada .
F.   Contoh cara mencari menghitung dan memberikan interpretasi terhadap angka indek korelasi tata jenjang
Ada tiga macam cara mencari perhitungan Rho, yaitu;
1)   Dalam keadaan tidak terdapat urutan yang kembar
2)   Dalam keadan terdapat urutan yang kembar dua
3)   Dalam keadaan urutan yang kembar tiga atau lebih
Dalam pembicaraan berikut akan dikemukakan contohnya satu persatu.
a.    Cara menghitung dan memberikan interpretasi terhadap angka indek korelasi tata jenjang, yang tidak terdapat urutan yang kembar.
Misalkan sejumlah 10 arang mahasiswa dikenal sebagai tokoh penting organisasi ekstra disebuah universitas ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian yang antara lain bertujuan mengetahui apakah memang secara signifikan terdapat korelasi positif antara keaktifan menreka dalam berorganisasi (variabel I) dan prestasi studi mereka difakultas (variabel II ).
Dari kegiatan penelitian tersebut, berhasil diperoleh tata berupa skor yang menunjukkan mean prestasi studi mereka difakultas, sebagai mana terlihat ditabel.
Langkah yang perlu untuk ditempuh untuk mecari angka indek korelasi Rho adalah sebagai berikut;
1)   Menyiapkan tabel kerja atau tabel perhitungan
2)   Menetapkan kedudukan skor yang terdapat pada variabel I (yaitu )
No urut
Nama
Skor
Keaktifan dalam organisasi (I)
Mean prestasi studi
(II)
1
A
37
63
2
B
41
45
3
C
38
60
4
D
44
50
5
E
35
65
6
F
43
52
7
G
40
55
8
H
42
47
9
I
36
64
10
J
39
59
3)   Menetapkan urutan kedudukan skor yang terdapat pada fariabel II
4)   Menghitung perbedaan urutan kedudukan untuk masing-masing pasangan yang yang dikorelasikan ( D=  – ). Jumlah D atau ∑D harus sama dengan 0
5)   Menguadratkan D; setelah selesai lalu dijumlahkan, sehingga diperoleh ∑ = 312
6)   Menghitung Rho dengan rumus:
ρ = 1 -
telah diketahui ∑ = 312; sedangkan N = 10. Dengan demikian :
ρ = 1 - = 1 - = 1- 1,891 = - 0,891
7)   Memberikan interpretasi terhadap Rho. Dari perhitungan diatas maka Rho kita peroleh sebesar – 0,891
Dengan melihat tanda yang terdapat didepan angka indek korelasi tersebut (minus) maka hal ini mengandung arti bahwa angka keaktifan berorganisasi ekstra dan prestasi studi difakultas terdapat korelasi yang berlawanan arah , dalam arti : makin aktif seorang mahasiswa dalam kegiatan organisasi tersebut diikuti, makin menurunnya prestasi belajar difakultas.
No urut
Nama
Skor
Rank
D = -
(I)
(II)
I=
II=
1
A
37
63
3
8
-5
25
2
B
41
45
7
1
6
36
3
C
38
60
4
7
-3
9
4
D
44
50
10
3
7
49
5
E
35
65
1
10
-9
81
6
F
43
52
9
4
5
25
7
G
40
55
6
5
1
1
8
H
42
47
8
2
6
36
9
I
36
64
2
9
-7
49
10
J
39
59
5
6
-1
1
Total
N =10
-
-
-
-
∑D = 0
b.    Cara menghitung dan memberikan interpretasi terhadap angka indek korelasi tata jenjang dimana terdapat urutan kedudukan yang kembar dua
Apabila dalam menghitung indek korelasi tata jenjang didapati skor yang kembar dua, yang berarti pula bahwa disini terdapat dua kedudukan yang sama maka urutan yang kembar itu harus dijumlahkan, kemudian dibagi dua.
Misalkan sejumlah 10 arang mahasiswa ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian yang antara lain bertujuan untuk mengetahui apakan secara signifikan terdapat korelasi positif tentang keaktifan berkunjung keperpustakaan dan prestasi belajar mereka difakultas.
Data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan angka sebagai berikut:
Pada tabel kita lihat bahwa baik ada fariabel I maupun variabel II masing-masingterdapat dua skor yang sama. Untuk variabel I skor yang kembar adalah 30, sedangkan untuk variabel II skor yang kembar adalah 60. Karena ada skor yang kembar maka sudah tentu urutan kedudukan nya pun akan kembar pula dalam keadaan demikian maka untuk memperoleh indek korelasi tata jenjang adalah seperti dapat diperiksa pada tabel dibawah ini.
No urut
Nama
Skor
Keaktifan berkunjung keperpustakaan(I)
Mean nilai hasil belajar difakultas
(II)
1
A
28
(60)
2
B
35
72
3
C
16
54
4
D
41
64
5
E
(30)
68
6
F
44
78
7
G
11
45
8
H
23
(60)
9
I
(30)
70
10
J
19
57
Tabel perhitungan untuk mencari indek koelasi tata jenjang yang terdapat skor kembar dua.

No urut
Nama
Skor
Rank
D =  –
 (I)
 (II)
I
II
1
A
28
(60)
5
0,5
0,25
2
B
35
72
8
9
-1
1
3
C
16
54
2
2
0
0
4
D
41
64
9
6
3
9
5
E
(30)
68
7
-0,5
0,25
6
F
44
78
10
10
0
0
7
G
11
45
1
1
0
0
8
H
23
(60)
4
-0,5
0,25
9
I
(30)
70
8
-1,5
2,25
10
J
19
57
3
3
0
0
N = 10
-
-
-
-
-
∑D = 0
Dua buah skor 30 pada variabel satu mestinya menempati urutan kedudukan ke-6 dan ke-7. Tetapi karena kembar maka kedua urutan kedudukan itu kita jumlahkan (6+7) =13 lalu kia bagi 2 = 6,50. Demikian juga skor 60 dan 60 pada variabel II mestinya menempati urutan kedudukan ke 4 dan 5; karena kembar maka kedudukannya = (4+5) dibagi dua = 4,5
Dari perhitungan pada tabel 5.10. telah kita peroleh ∑ = 13,00 sedangkan N = 10 .dengan demikian dapat kita cari indek korelasi Rho:
ρ = 1 - 
ρ = 1 - = 1 - = 1- 0,079 = - 0,921
Kita rumuskan terlebih dahulu  dan  nya:
  : ada korelasi yang segnifikan antara keaktifan para mahasiswa berkunjung keperpustakaan dan prestasi studi mereka difakultas
  : tidak korelasi yang segnifikan antara keaktifan para mahasiswa berkunjung keperpustakaan dan prestasi studi mereka difakultas
Df : N = 10 . (konsultasi tabel nilai Rho)
Dengan df sebesar 10, diperoleh Rho pada taraf segnifikan 5% sebesar 0,648; sedangkan pada taraf signifikasi 1% Rho diperoleh sebesar 0,794.
Dengan demikian Rho yang kita peroleh dalam perhitungan (yaitu 0,921) adalah jauh ebih besar daripada Rho yaitu (0,648 dan 0,794). Dengan demikian hipitesis nol ditolak. Berarti ada korelasi positif antara fariabel I dan Variabel II.
Kesimpulan kita, tinggi rendahnya prestasi studi para mahasiswa erat sekali hubungannya dengan keaktifan mereka dalam mengunjungi perpustakaan. Dalam arti pemanfaatan fasilitas perpustakaan berpengaruh positif terhadap prestasi studi mahasiswa di fakultas.    
c.    Cara menghitung dan memberikan interpretasi terhadap angka indek korelasi tata jenjang dimana terdapat urutan kedudukan yang kembar tiga atau lebih dari tiga
Teknik menghitung rata – rata kedudukan skor yang kembar dua seperti yan gtelah dikemukakan diatas tadi , dikembangkan oleh dubois, tetapi perhitungan rata – rata dari jumlah urutan yang kembar itu dipandang cukup tepat apabila urutan yang kembar itu hanya dua buah. Jika urutan kedudukan yang kembar itu tiga buah atau lebih maka perlu dilakukan perhitungan yang lebih teliti, yaitu dengan mncari urutan kedudukan yang kita harapkan () dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
    = Rank (urutan kedudukan) yang kita cari (kita harapkan)sahubungan dengan terjadinya kekembaran.
  = Mean (nilai rata-rata hitung) dari rank (urutan kedudukan) skor kembar.
n      = Banyaknya skor yang kembar.
1 dan 12 = Bilangan konstan (tidak bolah diubah-ubah).
Misalkan kita memiliki data seperti tertera pada tabel 5.11.
Pada tabel 5.11. dapat kita saksikan bahwa untuk variable I terdapat empat buah skor 30 (skor 30 kembar empat), sedangkan untuk variable II terjadi kekembaran skor 60 sejumlah lima buah.
No urut
Nama
Skor
Keaktifan berkunjung keperpustakaan(I)
Mean nilai hasil belajar difakultas
(II)
1
A
28
(60)
2
B
(30)
72
3
C
16
(60)
4
D
41
(60)
5
E
(30)
54
6
F
44
64
7
G
(30)
78
8
H
23
(60)
9
I
(30)
45
10
J
19
(60)
Proses perhitungan untuk mencari Rho dalam keadaan seperti ini adalah sebagai berikut:
Pertama-tama kita cari terlebih daahulu urutan kedudukan dari masing-masing skor pada fariabel I dan variable II :
Variable I:
Urutan ke-1      : skor 16
Urutan ke-2      : skor 19
Urutan ke-3      : skor 23
Urutan ke-4      : skor 28

Jadi
 
Urutan ke-5      : skor 30
Urutan ke-6      : skor 30
Urutan ke-7      : skor 30
Urutan ke-8      : skor 30
Urutan ke-9      : skor 41
Urutan ke-10    : skor 44
Dengan demikian dapat kita cari  untuk variabel I:
 =
=
=
=
= 6,595 = 6,6
Sekarang kita cari urutan kedudukan skor variabel II:
Urutan ke-1      : skor 45
Urutan ke-2      : skor 54

Jadi
 
Urutan ke-3      : skor 60
Urutan ke-4      : skor 60
Urutan ke-5      : skor 60
Urutan ke-6      : skor 60
Urutan ke-7      : skor 60
Urutan ke-8      : skor 64
Urutan ke-9      : skor 72
Urutan ke-10    : skor 78
Dengan demikian dapat kita cari  untuk variable II:
 =
=
=
=
= 5,196 = 5,2
Marilah kita hitung angka indeks korelasi Rho melalui Tabel kerja/ Tabel perhitungan berikut ini (Lihat tabel 5.12)
No urut
Nama
Skor
Rank
 (I)
 (II)
I
II
1
A
28
(60)
4
5,2
-1,2
1,44
2
B
(30)
72
6,6
9
-2,4
5,76
3
C
16
(60)
1
5,2
-4,2
17,64
4
D
41
(60)
9
5,2
3,8
14,44
5
E
(30)
54
6,6
2
4,6
21,16
6
F
44
64
10
8
2
4,00
7
G
(30)
78
6,6
10
-3,4
11,56
8
H
23
(60)
3
5,2
-2,2
4,84
9
I
(30)
45
6,6
1
5,6
31,36
10
J
19
(60)
2
5,2
-3,2
10,24
N = 10
-
-
-
-
-
-
Dari perhitungan diatas, kita peroleh  dengan demikian dapat kita peroleh Rho:
ρ = 1 - 
ρ = 1 - = 1 - = 1- 0,742 = - 0,258
Kita rumuskan hipotesis alternatif dan hipotesis nolnya:
  = Ada korelasi positif yang signifikan antara keaktifan para mahasiswa mengunjungi perpustakaan  Universitas dan hasil belajar mereka di fakultas.
  = Tidak ada korelasi positif yang siknifikan antara keaktifan para mahasiswa mengunjungi perpustakaan Universitas dan nilai hasil belajar mereka di fakultaas.
df  = N = 10 (Konsultan tabel nilai Rho).
Dengan df sebesar 10 diperoleh Rho tabel pada taraf signifikasi 5% = 0,648 dan pada taraf signifikansi 1% = 0, 794. Ternyata Rho yang kita perolah dari perhitungan ( ) adalah lebih kecil dari pada (0,648> 0,258< 0,794) Dengan demikian   ditolak; berarti: tidak ada korelasi positif yang signifikan antara keaktifan para mahasiswa mengunjungi perpustakaan Universitas dan nilai hasil belajar mereka di fakultas; sebaliknya  disetujui karena terbukti kebenarannya.

TEKHNIK KORELASI PHI (PHI COEFFECIENT CORRELATION)
A.    Pengertian
Tekhnik korelasi phi adalah salah satu teknik analisis korelasional yang dipergunakan apabila data yang dikorelasikan adalah data yang benar-benar dikotomik (terpisah atau dipisahkan secara tajam); dengan istilah lain : variabel yang dikorelasikan itu adalah variabel diskrit murni, misalnya: Laki-laki-Perempuan, Hidup-Mati, Lulus-Tidak Lulus, dsb. Apabila variabelnya bukan merupakan variabel diskrit dan kita ingin menganalisis data tersebut dengan menggunakan teknik ini, maka variabel tersebut harus diubah lebih dulu menjadi variabel diskrit.  
B.     Lambang
Besar-kecil, kuat-lemah, atau tinggi-rendahnya korelasi antar dua variabel yang kita selidiki korelasinya pada Teknik Korelasi Phi ini, ditunjukkan oleh besar kecilnya angka indeks korelasi yang dilambangkan dengan huruf φ (Phi). Phi besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan ±1,00.
C.    Rumus
1.      Rumus Pertama :
φ =
Rumus ini kita pergunakan apabiladalam menghitung atau mencari φ kita mendasarkan diri pada frekuensi dari masing-masing sel yang terdapat pada Tabel Kerja (Tabel Perhitungan)
2.      Rumus Kedua :
φ =
rumus ini kita pergunakan apabila dalam menghitung φ kita mendasarkan diri pada proporsinya.
3.      Rumus Ketiga :
φ =
rumus ketiga ini kita pergunakan apabila dalam mencari φ kita terlebih dahulu menghitung harga Kai Kuadrat (); Kai Kuadrat itu dapat diperoleh dengan rumus :
fᴑ = frekuensi yang diobservasi atau observed frequency, atau frekuensi yang diperoleh dalam penelitian.
ft    =  frekuensi teoretik atau theoretical frequency, atau frekuensi secara teoretik.
D.    Cara Memberikan Interpretasi Terhadap Angka Indeks Korelasi Phi (φ)
Pada dasarnya, Phi merupakan Product Moment Correlation. Rumus untuk menghitung Phi merupakan variasi dari rumus dasar Pearson yaitu :
Berhubung dengan itu, maka Phi Coeffecient itu dapat diinterpretasikan dengan cara yang sama dengan “r” Product Moment dari Pearson.
E.     Contoh Cara Mencari (Menghitung) Angka Indeks Korelasi Phi
1.      Cara Mencari Angka Indeks Korelasi Phi dengan mendasarkan diri pada frekuensi masing-masing sel yang terdapat dalam Tabel Kerja (Tabel Perhitungan)
Misalnya dalam suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah secara signifikan terdapat korelasi antara kegiatan mengikuti bimbingan tes yang dilakukan oleh para siswa lulusan SMA dan prestasi mereka dalam Tes SPMB, yang telah ditetapkan jumlah pesertanya 100 orang. Berikut adalah datanya :
Status
Prestasi
Mengikuti Bimbingan Tes
Tidak Mengikuti Bimbingan Tes
Jumlah
Lulus Tes SPMB
20
20
40
Tidak Lulus Tes SPMB
25
35
60
Jumlah
45
55
100 = N
Penerimaan calon mahasiswa baru (SPMB), dalam penelitian mana telah diterapkan sampel sejumlah 100 orang lulusan SMTA berhasil diperoleh data sebagaimana tertera pada table diatas.
Kita rumuskan terlebih dahulu :
: ada korelasi yang signifikan antara keikutsertaan para lulusan SMTAdalam bimbingan tes dan keberhasilan mereka dalam tes SPMB
: tidak ada korelasi yang signifikan antara keikutsertaan para lulusan SMTA dalam bimbingan tes dan keberhasilan mereka dalam tes SPMB
Karena phi disini akan dihitung berlandaskan pada frekuensi selnya, maka masing-masing sel yang terdapat pada table diatas itu kita persiapkan lebih dahulu menjadi tabel perhitungan.
 Disini kita lihat: frekuensi sel a=20; b=20; c=25; dan d=35.
Rumus yang kita perguanakan adalah
φ  =

Status
Prestasi
Mengikuti Bimbingan Tes
Tidak Mengikuti Bimbingan Tes
Jumlah
Lulus Tes SPMB
20
a
20
b
40
Tidak Lulus Tes SPMB
25
c
35
d
60
Jumlah
45
55
100 = N
φ  =
=  =  = 0,082
2.      Cara Mencari Angka Indeks Korelasi Phi dengan mendasarkan diri pada Nilai Proporsinya.
Rumus yang digunakan adalah :
φ =
dengan menggunakan contoh sebelumnya, maka tabel yang diperlukan adalah :
Status
Prestasi
Mengikuti Bimbingan Tes
Tidak Mengikuti Bimbingan Tes
Jumlah
Lulus Tes SPMB
20
α =
20
β =
40
p = 0,400
Tidak Lulus Tes SPMB
25
γ =
35
δ =
60
q = 0,600
Jumlah
45
p’ = 0,450
55
q’ = 0,550
100 = 1,000

Diketahui : (α) = 0,200 ; (β) = 0,200 ; (γ) = 0,250 ; (δ) = 0,350
Kita masukkan dalam rumus:
φ =  =
    =  =  = 0,082
3.      Cara Mencari (Menghitung) Angka Indeks Korelasi Phi dengan memperhitungkan Kai Kuadrat
Kai Kuadrat di sini sekedar diperkenalkan sebagai suatu proses perhitungan atau pengolahan data. Jika perhitungan φ didasarkan pada harga Kai Kuadrat maka menggunakan rumus sebagai berikut : φ =
Dengan menggunakan contoh awal, maka untuk memperoleh harga Phi dengan menggunakan Kai Kuadrat, Tabel dan Proses perhitungannya adalah sebagai berikut :
Status
Prestasi
Mengikuti Bimbingan Tes
Tidak Mengikuti Bimbingan Tes
Jumlah
Lulus Tes SPMB
20
20
40 = rN
Tidak Lulus Tes SPMB
25
35
60 = rN
Jumlah
45 = cN
55 = cN
100 = N
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, maka rumus untuk mencari Kai Kuadrat adalah:
Cara menghitungnya :
Sel
1
2
3
4
20
20
25
35

+2
-2
-2
+2
4
4
4
4
0,2222
0,1818
1,1481
0,1212
Jumlah
100 = N
100 = N
0
-
0,6733 =

Dengan demikian, φ dapat kita peroleh dengan jalan mensubstitusikan harga Kain Kuadrat ke dalam rumus Phi :
φ =  =  = = 0,082
4.      Cara Mencari (Menghitung) Angka Indeks Korelasi Phi dalam keadaan khusus
Yang dimaksud dengan keadaan khusus di sini ialah bahwa dalam Tabel Kerja atau Tabel Perhitungan untuk mencari Phi ternyata salah satu distribusinya terbagi seimbang (yaitu : p’ = 0,500 dan q’ = 0,500). Dengan keadaan seperti ini, maka Phi dihitung dengan rumus :
 φ =





Contoh :
Status
Prestasi
Mengikuti Bimbingan Tes
Tidak Mengikuti Bimbingan Tes
Jumlah
Lulus Tes SPMB
21
α = 0,210
19
β = 0,190
40
p = 0,400
Tidak Lulus Tes SPMB
29
γ = 0,290
31
δ = 0,310
60
q = 0,600
Jumlah
50
p’ = 0,500
50
q’ = 0,500
100
1,0000

Diketahui : (α) = 0,210 ; (β) = 0,190 ; (γ) = 0,290 ; (δ) = 0,310 ; p = 0,400 ; dan q = 0,600. Dengan demikian, Phi kita peroleh dengan cara sebagai berikut :
φ =  =  
= =  = 0,020
Jika kita konsultasikan dengan Tabel Nilai “r” Product Moment, ternyata φ lebih kecil daripada rtabel ; jadi hipotesis nol disetujui. Berarti tidak ada korelasi yang signifikan antara keikutsertaan siswa lulusan SMA dengan kegiatan bimbingan tes dan prestasi yang mereka









BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik korelasi tata jenjang dalam statistik dikenal sebagai teknik korelasional yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan teknik analisis korelasional lainnya.
Pada teknik korelasi tata jenjang ini, besar kecil atau kuat lemahnya suatu variabel yang sedang kita selidiki korelasinya, kita ukur berdasarkanper bedaan urutan kedudukan skornya;  jadi bukan diddasarkan pada skor hasil pengukuran yang sebenarnya. Dengan kata lain datanya adalah data ordinal atau data berjenjang atau data urutan, nisalnya siswa yang IQ nya memiliki jenjang yang paling tinggi dalam hal prestasi belajaar matematika; siswa yang IQ nya paling rendah , prestasi belajar matematika nya juga menempati jenjang yang paling rendah. 
Teknik analisis korelasi tata jenjang ini dapat evektif digunakan apabila subyek yang dijadikan sampel dalam penelitian lebih dari sembilan tetraapi kurang dari sembilan puluh; dengan kata lain N antara 10 – 29, karena itu apabila N sama dengan atau lebih dari 30, sebaiknya jangan digunakan teknik korelasi ini.
Teknik korelasi tata jenjang ini angka indek korelasinya dilangbangkan dengan huruf  ρ (baca:Rho). Seperti halnya rxy maka angka indek korelasinya berkisar antara 0,00 sampai dengan ±1,00.
Tekhnik korelasi phi adalah salah satu teknik analisis korelasional yang dipergunakan apabila data yang dikorelasikan adalah data yang benar-benar dikotomik (terpisah atau dipisahkan secara tajam); dengan istilah lain : variabel yang dikorelasikan itu adalah variabel diskrit murni, misalnya: Laki-laki-Perempuan, Hidup-Mati, Lulus-Tidak Lulus, dsb. Apabila variabelnya bukan merupakan variabel diskrit dan kita ingin menganalisis data tersebut dengan menggunakan teknik ini, maka variabel tersebut harus diubah lebih dulu menjadi variabel diskrit.
Besar-kecil, kuat-lemah, atau tinggi-rendahnya korelasi antar dua variabel yang kita selidiki korelasinya pada Teknik Korelasi Phi ini, ditunjukkan oleh besar kecilnya angka indeks korelasi yang dilambangkan dengan huruf φ (Phi). Phi besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan ±1,00.



























DAFTAR PUSTAKA

Sudiyono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Amudi Pasaribu, Dr., Pengantar Statistik, Medan: Imballo, 1965.
Hananto Sigit B.St., Statistik suatu pengantar, Jakarta: Ikhtiar, 1960.
Oppusunggu, Statistik, Jakarta: PT. Pradnjaparamita, 1962.